Blog Hukum FYH

PENGERTIAN ANJAK PIUTANG (FACTORING)

Posted on: 12/12/2009

PENGERTIAN ANJAK PIUTANG

Oleh: Fauzie Yusuf Hasibuan

Anjak piutang dalam bahasa inggris sering disebut sebagai factoring. Anjak Piutang merupakan istilah yang berasal dari gabungan kata ”anjak” yang artinya pindah atau alih dan ”piutang” yang berarti tagihan sejumlah uang. Berdasarkan arti kata tersebut secara sederhana Anjak Piutang berarti pengalihan piutang dari pemiliknya kepada pihak lain.[1]

Menurut terminology Factoring dalam terjemahan bebasnya bahwa Factoring adalah suatu penjualan piutang dagang dari suatu perusahaan (Clien) kepada factor dengan harga yang telah didiskon, dimana piutang dagang tersebut berasal dari transaksi bisnis miliknya si perusahaan (Clien). [2]

Factoring dalam bahasa Indonesia diterjemahkan menjadi Anjak Piutang maksudnya piutang yang dialihkan. Sedangkan pengertian Factoring/Anjak Piutang menurut John Downes dan Jordan Elliot Goodman dalam Dictionary of Finance and Investment Terms adalah :

Type financial service why a firm sells or transfer title to its account receivable to a Factoring company, which then acts a principal, not as agent. The receivables are sold without recources, meaning that the Factor can not turn to the seller in the event accounts prove un collectible”[3]

Istilah Factoring sering menjadi perdebatan tentang asal usul terjemahan menjadi Anjak Piutang. Di dalam Black’s Law Dictionary menyebutkan bahwa Factoring adalah  ”The buying accounts receivable at a discount. The price is discounted because the factor (who buys them) assumes the risk of  delay in collection and loss on the accounts receivable”

Sedangkan pengertian Anjak Piutang berdasarkan Surat Keputusan Menteri Keuangan No.448/KMK.017/2000 adalah “kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan atau pengalihan serta pengurusan piutang jangka pendek suatu perusahaan dari transaksi perdagangan dalam atau luar negeri”.[4]

Menurut pejabat Departemen Keuangan kata Anjak Piutang dipilih oleh lembaga ahli Bahasa Indonesia tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Departemen Keuangan. Dengan demikian perkataan Anjak Piutang merupakan istilah baru dalam perbendaharaan bahasa Indonesia.

Menurut Keppres No. 61 Tahun 1988 tentang Lembaga Pembiayaan, anjak piutang merupakan usaha pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek dari suatu perusahaan yang terbit dari suatu transaksi perdagangan dalam dan luar negeri.

Pengertian Anjak Piutang atau Factoring juga dijumpai dalam referensi formal isi kamus Bank Indonesia, merupakan hukum kegiatan pembiayaan dalam bentuk pembelian dan/atau pengalihan serta pengurusan piutang atau tagihan jangka pendek atau perusahaan atas transaksi perdagangan dalam atau luar negeri, sedangkan perusahaan yang melakukan Anjak Piutang disebut penganjak-piutang (Factoring) dan pengertian penganjak-piutang yaitu adalah pihak yang kegiatannya membeli piutang pihak lain dengan menanggung resiko tak terbayar utang (Factor).[5]

Dari definisi di atas dapat disebutkan bahwa anjak piutang adalah suatu teknik pendanaan jangka pendek dengan memanfaatkaan piutang yang dimiliki oleh suatu perusahaan. Perusahaan yang bersangkutan menjual atau menyerahkan hak atas piutangnya kepada perusahaan kepada perusahaan anjak piutang. Kemudian perusahaan anjak piutang menyerahkan uang kepada perusahaan tersebut sebesar persentase tertentu dari jumlah nilai piutang. Sebagai imbalan, perusahaan anjak piutang membebankan biaya administrasi dan bunga pada perusahaan tersebut.[6]

Gatot Wardoyo, dalam makalahnya berjudul “Beberapa aspek mengenai Factoring (Anjak Piutang)” mengemukakan bahwa Anjak Piutang mengandung dua aspek hukum yang penting, yaitu :

  1. Transaksi penjualan tagihan, meskipun tagihan yang dijual dan dilakukan oleh Clien kepada factor belum dilunasi, akan tetapi pengalihan tersebut diberitahukan kepada customer dan diminta kepadanya untuk membayar kepada factor.
  2. Pembayaran dimuka yang dilakukan oleh factor kepada Clien dianggap sebagai pinjaman, sedangkan tagihan yang diterima oleh Factoring dari Clien diberlakukan sebagai jaminan.[7]

[1] Sunaryo, Hukum Lembaga Pembiayaan, (Jakarta : Sinar Grafiko, 2008), hal. 73.

[2] Rinus Pantouw, Hak Tagih Factor  Atas Piutang Dagang, Cet. 1, (Jakarta : Kencana Prenada Media Gorup, 2006), hal. 13.

[3] Budi Rachmat., Anjak Piutang Solusi Cash Flow Problem, Cetakan Ke 1, (Jakarta: Gramedia Pustaka, 2003), hal. 1.

[4] Ibid.,

[5] Rinus Pantow, Op., Cit, hal. 7.

[6] Handowo Dipo, Sukses Memperoleh Dana Usaha, (Jakarta : Pustaka Utama Grafity, 1993), hal. 28.

[7] Suharnoko dan Endah Hartati, Doktrin Subrogasi, Novasi, dan Cessie, (Jakarta: Prenada Media, 2006), hal. 129-130.

About these ads

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Desember 2009
S S R K J S M
     
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Masukkan alamat surel Anda untuk berlangganan blog ini dan menerima pemberitahuan tulisan-tulisan baru melalui surel.

Bergabunglah dengan 3 pengikut lainnya.

Blog Stats

  • 25,665 hits

Klik tertinggi

  • Tidak ada
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: