Blog Hukum FYH

HAK REGRES DAN HAK TANPA REGRES DALAM KEGIATAN PEMBIAYAAN ANJAK PIUTANG

Posted on: 12/12/2009

HAK REGRES DAN HAK TANPA REGRES DALAM KEGIATAN PEMBIAYAAN ANJAK PIUTANG

Hak regres atau hak recourse dalam kamus Bank Indonesia adalah Hak Pemegang Surat Wesel/cek/surat sanggup untuk menagih penarik/endosan/avalis guna mendapatkan pembayaran jika pihak tertarik menolak melakukan pembayaran (recht van regres) dan Recourse juga diartikan hak alih bayar.

Hak regres diatur di dalam Pasal 142 sampai dengan Pasal 153 KUHD. Hak regres diberikan undang-undang kepada pemegang surat wesel. Yang dimaksud hak regres berhubung karena tersangkut tidak mau mengakseptasi ketika ditawarkan akseptasi atau karena tersangkut tidak membayar ketika pemegang meminta debitor yang wajib regres untuk membayar sendiri surat wesel itu kepada pemegang.

Lembaga Anjak Piutang mengatur mengenai peralihan hak tagih untuk berada di pihak Factor dan Clien wajib melepaskan hak tagihnya, sehingga pihak tertarik, yaitu konsumen wajib membayar kepada Factor. Pilihan dengan hak regres atau tanpa hak regres ini perlu disepakati sebelum membuat perjanjian Anjak Piutang.

  1. 1. Hubungan Hukum Antara Para Pihak Perjanjian Anjak Piutang

a)      Hubungan Hukum Antara Factor dengan Clien

Perusahaan Anjak Piutang (Factor) dan Clien mereka merupakan para pihak dalam perjanjian Anjak Piutang. Hak dan kewajiban mereka telah dituangkan dalam perjanjian Anjak Piutang. Adapun hak dan kewajiban itu adalah sebagai berikut :

1)      Kewajiban Clien

Menyerahkan semua faktur (invoice) yang merupakan objek perjanjian selama jangka waktu perjanjian Anjak Piutang yang dilakukan secara kontinue, penyerahan tersebut haruslah disertau dengan jaminan bahwa :

a)      Seluruh data, penyertaan, laporan dan semua dokumen berkenaan dengan hutang pelangan kepada Clien adalah benar dan lengkap

b)      Piutang tersebut harus timbul dari transaksi jual beli yang dilakukan dengan benar dan sah, serta bebas dari segala tuntutan komisi/jelas yang timbul dari siapapun juga (kecuali pemotongan khusus yang menjadi hak pelanggan sesuai dengan perjanjian jual beli/transaksi)

c)      Menyerahkan semua hak sebagai pemilik piutang yang sah, termasuk hak untuk menagih piutang dengan segala cara hak Clien atas bunga atau keuntungan lainnya, serta hak-hak lainnya yang timbul sebagai akibat adanya transaksi antara Clien dan Costumer tanpa terkecuali.

d)     Tidak akan melakukan perubahan terhadap perjanjaian jual beli antara Clien dan Costumer, tidak akan menyerahkan atau mengalihkan piutang tersebut kepad pihak ketiga selain kepada Factor.

2)      Hak Clien

a)      Menerima pembayaran di muka atas harga semua faktur (invoice) yang telah diserahkan selama perjanjian Anjak Piutang berlangsung.

b)      Menerima laporan hasil pemeriksaan pembukuan yang berhubungan dengan piutang yang dialihkan

3)      Kewajiban Factor

a)      Membayar di muka semua faktur (invoice) yang telah diterima selama perjanjian Anjak Piutang berlangsung.

b)      Menyelenggarakan pemeriksaan pembukuan yang berhubungan dengan piutang yang dialihkan

c)      Melakukan penagihan atas piutang yang dibeli kepada Pelanggan (Customer)

d)     Melaporkan secara teratur posisi piutang dan hutang kepada Clien dan Pelanggan (Customer)

4)      Hak Perusahaan Anjak Piutang

a)      Menerima semua faktur (invoice) secara berkala selama Perjanjian Anjak Piutang berlangsung

b)      Mendapatkan jaminan bahwa piutang tersebut adalah benar dan sah

c)      Melakukan seleksi terhadap piutang yang dialihkan oleh Clien

d)     Menerima pembayaran atas piutang tersebut dari Pelanggan (Customer) pada saat jatuh tempo yang dilakukan secara kontinyu selama Perjanjian Anjak Piutang berlengsung tanpa adanya tuntutan dari siapapun

e)      Melakukan peneguran terhadap Pelanggan apabila tidak melakukan pembayaran terhadap invocie yang telah jatuh tempo

b)      Hubungan Hukum antara Clien dengan Costumer

Diantara Clien dan Costumer terjadi suatu perjanjian jual beli atas transaksi dagang, sehingga terhadap Clien timbul piutang (yang merupakan haknya) yang selanjutnya menjadi objek dalam perjanjian Anjak Piutang, sedangkan terhadap Costumer timbul kewajiban untuk membayar harga atas transaksi jual beli yang dilakukan. Hak dan kewajiban kedua belah pihak diatur dalam perjanjian jual beli mereka masing-masing

c)      Hubungan Hukum antara Factor dengan Costumer

Diantara Factor dengan Costumer meskipun tidak terikat dalam suatu perjanjian, artinya Costumer merupakan pihak dalam perjanjian Anjak Piutang, namun dengan dialihkannya semua hak Clien atas piutang-piutang yang timbul dari transaksi antara Clien dengan Costumer kepada Factor, maka Factor berhak mengantikan kedudukan Clien sebagai kreditur. Dalam hal ini dapat kita kaitkan dengan Pasal 1400 KUHPerdata yang mengatur mengenai subrogasi, yaitu subrogasi atau pengantian hak-hak si berpiutang itu, terjadi baik dengan kedudukan Clien telah diganti oleh Factor. Namun agar supaya pengalihan atas piutang tersebut sah, harus dilakukan berdasarkan Pasal 613 KUHPerdata artinya pengalihan atas piutang tersebut harus diberitahukan kepada Costumer atau secara tertulis disetujui dan diakui.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: